KPN Blangkejeren Mengikuti Kegiatan Dialog Yudisial Indonesia, Australia dan Malaysia

Berita

Blangkejeren – Kamis 28 Juli 2022 KPN Blangkejeren Bapak Robby Alamsyah, S.H.,M.H. Mengikuti Kegiatan Dialog Yudisial Indonesia, Australia dan Malaysia dalam hal “Perlindungan Hak Perempuan dan Anak dalam Perkara Perceraian”. Dialog Yudisial ini diselenggarakan selama 2 (dua) hari mulai dari tanggal 27 – 28 Juli 2022 secara Online/Daring. Dibuka langsung oleh Ketua MA RI Yang Mulia Prof. Dr. H. M. Syarifuddin, S.H., M.H. serta diikuti oleh Hakim Pengadilan Tingkat Pertama dan Banding dari Lingkungan Peradilan Umum dan Agama Seluruh Indonesia dan Perwakilan Kementerian/Lembaga, praktisi, akademisi dan organisasi non pemerintah.

Dialog Yudisial dibagi menjadi 3 (tiga) Panel diantaranya, Panel 1 (satu) Membahas tentang “Nafkah Istri dan Anak dalam Perceraian” dimana orang tua ataupun Pengasuh non-orangtua harus mengatur skema tunjangan disertai dengan Memperhitungkan tingkat / seberapa besar pengasuhan yang dilakukan oleh masing-masing orangtua atau pengasuh terhadap anak-anak tersebut. Panel 2 (dua) Membahas tentang “Peran Hakim dalam Menangani Perkara perceraian secara Verstek” dimana Hukum Acara Perdata yang berlaku (HIR/RBg maupun RV dan peraturan perundang-undangan lain), Pengadilan di Indonesia, sama dengan di Australia, untuk memberikan keadilan kepada para pihak, dalam hal pihak Tergugat telah dipanggil secara resmi dan patut namun tidak hadir di persidangan tanpa alasan yang sah, maka berdasarkan bukti-bukti yang cukup, hakim memberi putusan mengenai perkara yang digugat itu tanpa kehadiran pihak tergugat (Verstek). Yang terakhir Panel 3 (tiga) Membahas tentang “Pendokumentasian KDRT dalam Kasus Perceraian untuk Menjamin Kepentingan terbaik Anak dalam Perkara Perceraian” yaitu korban kekerasan dalam rumah tangga, yang kebanyakan adalah perempuan, harus mendapat perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *